Nama : Leonardo Mulya Saputra
NPM : 26314030
Kelas : 1TB01
Pemuda dan
Sosialisasi
aA) Internalisasi
Belajar & Spesialisasi
Pengertian Pemuda
Pemuda
adalah golongan manusia manusia muda yang masih memerlukan pembinaan dan
pengembangan kearah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi
pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda di Indonesia dewasa ini sangat
beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan. Keragaman
tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan perbedaan dalam pembinaan dan
pengembangan generasi muda.
Proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia tiap hari baik di
lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengaruh yang besar
pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu
bisa disebut dengan istilah sosialisasi, proses sosialisasi itu berlangsung
sejak anak ada di dunia dan terus akan berproses hingga mencapai titik
kulminasi.
Pemuda
Indonesia
Pemuda dalam pengertian adalah manusia-manusia muda, akan tetapi di Indonesia
ini sehubungan dengan adanya program pembinaan generasi muda pengertian pemuda
diperinci dan tersurat dengan pasti. Ditinjau dari kelompok umur, maka pemuda
Indonesia adalah sebagai berikut :
Masa
bayi : 0 – 1 tahun
Masa anak : 1 – 12 tahun
Masa Puber : 12 – 15 tahun
Masa Pemuda : 15 – 21 tahun
Masa dewasa : 21 tahun keatas
Dilihat
dari segi budaya atau fungsionalnya maka dikenal istilah anak, remaja dan
dewasa, dengan perincian sebagia berikut :
Golongan
anak : 0 – 12 tahun
Golongan remaja : 13 – 18 tahun
Golongan dewasa : 18 (21) tahun keatas
Usia
0-18 tahun adalah merupakan sumber daya manusia muda, 16 – 21 tahun keatas
dipandang telah memiliki kematangan pribadi dan 18(21) tahun adalah usia yang
telah diperbolehkan untuk menjadi pegawai baik pemerintah maupun swasta
Dilihat dari segi ideologis politis, generasi muda adalah mereka yang berusia
18 – 30 – 40 tahun, karena merupakan calon pengganti generasi terdahulu.
Pengertian pemuda berdasarkan umur dan lembaga serta ruang lingkup tempat
pemuda berada terdiri atas 3 katagori yaitu :
1. siswa, usia antara 6 – 18 tahun, masih duduk di bangku sekolah
2. Mahasiswa usia antara 18 – 25 tahun beradi di perguruan tinggi dan akademi
3.
Pemuda di luar lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi yaitu mereka yang
berusia 15 – 30 tahun keatas.
Akan tetapi, apabila melihat peran pemuda sehubungan dengan pembangunan, peran
itu dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan
tuntutan-tuntutan lingkungan. Pemuda dalam hal ini dapat berperan sebagai
penerus tradisi dengan jalan menaati tradisi yang berlaku
2.
Didasarkan atas usaha menolak menyesuaikan diri dengan lingkungan. Peran pemuda
jenis ini dapat dirinci dalam tiga sikap, yaitu : pertama jenis pemuda
“pembangkit” mereka adalah pengurai atu pembuka kejelasan dari suatu masalah
sosial. Mereka secara tidak langsung ktu mengubah masyarakat dan kebudayaan. Kedua
pemuda pdelinkeun atau pemuda nakal. Mereka tidak berniat mengadakan perubahan,
baik budaya maupun pada masyarakat, tetapi hanya berusaha memperoleh manfaat
dari masyarakat dengan melakukan tidnakan menguntungkan bagi dirinya, sekalipun
dalam kenyataannya merugikan. Ketiga, pemuda radikal. Mereka berkeinginan besar
untuk mengubah masyarakat dan kebudayaan lewat cara-cara radikal, revolusioner.
Kedudukan pemuda dalam masyarakat adalah sebagai mahluk moral,
mahluk sosial. Artinya beretika, bersusila, dijadikan sebagai barometer moral
kehidupan bangsa dan pengoreksi. Sebagai mahluk sosial artinya pemuda tidak
dapat berdiri sendiri, hidup bersama-sama, dapat menyesuaikan diri dengan
norma-norma, kepribadian, dan pandangan hidup yang dianut masyarakat.
Sebagai mahluk individual artinya tidak melakukan kebebasan sebebas-bebasnya,
tetapi disertai ras tanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat,
dan terhadap Tuhan Yang maha Esa.
Melalui
proses sosialisasi, seorang pemuda akan terwarnai cara berpikir dan
kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan
dapat diramalkan. Dengan proses sosialisasi,
seseorang menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah
masyarakat dan lingkungan budayanya. Dari keadaan tidak atau belum
tersosialisasi, menjadi manusia masyarakat dan beradab. Kedirian dan
kepribadian melalui proses sosialisasi dapat terbentuk. Dalam hal ini
sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar dan
menyesuaikan diri, bagaiman cari hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya
gar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Sosialisasi merupakan salah
satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dan hubungannya dengan
sistem sosial.
Proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan
lingkungan sosial yang bersangkutan. Berbeda dengan inkulturasi yang
mementingkan nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan dalam jiwa individu,
sosialisasi dititik beratkan pada soal individu dalam kelompok melalui pendidikan
dan perkembangannya. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian dan
kepribadian seseorang. Kedirian (self) sebagai suatu
prosuk sosialisasi, merupakan kesadaran terhadap diri sendri dan memandang
adanya pribadi orang lain di luar dirinya. Kesadaran terhadap diri sendiri
membuat timbulnya sebutan “aku” atau “saya” sebagai kedirian subyektif yang
sulit dipelajari. Asal mula timbulnya kedirian :
1. Dalam proses sosialisasi mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah
memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya. Misalnya ia
tidak disukai, tidak dihargai, tidak dipercaya; atau sebaliknya, ida disayangi,
baik budi dandapt dipercaya
2.
Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang bersangkutan
mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus ia lakukan agar memperoleh
penghargaan dari orang lain. Bentuk-bentuk kedirian ini berguna dalam
meningkatkan ketaatan anak terhadap norma-norma sosial
Bertitik
tolak dari pengertian pemuda, maka sosialisasi pemuda dimulai dari umur 10
tahun dalam lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, dan jalur organisasi formal
atau informal untuk berperan sebagai mahluk sosial, mahluk individual bagi
pemuda
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pemuda-dan-sosialisasi-5/
INTERNALISASI
BELAJAR DAN SOSIALISASI
Internalisasi
belajar dan Sosialisasi proses peresapan pengetahuan ke dalam pikiran. Dalam
proses ini, pengetahuan eksplisit (kelihatan, biasanya dalam bentuk simbol dan
kode) diubah ke dalam bentuk tasit (tak kelihatan). Contoh internalisasi adalah
membaca buku, cetak maupun digital. Buku cetak tentu tak perlu dihadirkan
dengan teknologi informasi. Sedangkan buku digital atau elektronik memerlukan
teknologi informasi.
bB)
Pemuda
dan Identitas
Dalam pengembangan Generasi Muda maka
dibentuklah pola dan landasan dasarnya, yaitu :
1. Landasan
Idiil
2. Landasan
Konstitusional
3. Landasan
Strategis
4. Landasan
Historis
5. Landasan Normatif
Menurut Pola dasar pembinaan dan pengembangan
generasi muda yang ada di atas telah ditetapkan oleh mentri pendidikan dan
kebudayaan dalam keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan NO 00323/U/1978
Tanggal 28 Oktober 1978.
Pengembangan Generasi Muda
Dalam hal ini Pembinaan dan pengembangan
generasi muda menyangkut dua pengertian pokok yaitu :
a. Generasi
muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah
memiliki bekal-bekal dan kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri dalam
keterlibatannya secara fungsional bersama potensi lainnya, guna menyelesaikan
masalah-masalah yang dihadapi bengsa dalam rangka kehidupan berbangsa dan
bernegara serta pembangunan nasional.
b. Generasi
muda sebagai obyek pembinaan dan pengembangan ialah mereka yang masih
memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah pertumbuhan potensi dan kemampuan
–kemampuannya ke tingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang
melibatkan secara fugsional
Permasalahan Generasi Muda
Generasi
Muda zaman sekarang khususnya remaja telah mengalami perubahan dari remaja pada
zaman dahulu kala. Budaya asing yang masuk kedalama Negara kita telah
memberikan dampak bagi perilaku kita. Sehingga banyak sekali generasi muda kita
tidak memiliki pendirian tetap dan mudah dipengaruhi. Hilangnya moral dan etika
pada remaja kita. Banyak pula generasi muda kita telah menjadi pasif dalam
kehidupan bermasyarakat, berbeda dengan pada zaman dahulu kala yang mau turun
langsung ke lapangan.
Padahal bangsa dan Negara sangat
membutuhkan potensi-potensi yang ada pada remaja. Karena potensi pada remaja
lah yang mampu membuat perubahan menuju kehidupan yang baik bagi Bangsa dan
Negara, karena Generasi Muda merupakan benih bagi bangsa. Potensi-potensi yang
dibutuhkan yaitu :
- Idealisme dan Daya Kritis Secara
sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada, sehingga ia dapat
melihat kekurangan dalam tatanan dan secara wajar mampu mencari gagasan baru.
yang
- Dinamika dan Kreativitas Adanya
idealisme pada generasi muda, menyebabkan mereka memiliki potensi kedinamisan
dan kreativitas, yakni kemampaun dan kesediaan untuk mengadakan perubahan,
pembaharuan,
- Keberanian Mengambil Resiko Perubahan
dan pembaharuan termasuk pembangunan, mengandung resiko dapat meleset,
terhambat atau gagal. Namun, mengambil resiko itu diperlukan jika ingin
memperoleh kemajuan.
- Optimis dan Kegairahan
Semangat Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat.
Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda merupakan daya
pendorong untuk mencoba lebih maju lagi.
- Sikap Kemandirian dan Disiplin Murni
Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan
tindakannya.
- Terdidik Walaupun
dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti
kualitatif maupun dalam arti kuantitatif.
- Keanekaragaman dalam Persatuan dan Kesatuan Keanekaragaman
generasi muda merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat kita.
Keanekaragaman tersebut dapat menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan
eksklusif.
- Patriotisme dan Nasionalisme Pemupukan
rasa kebanggaan, kecintaan, dan turut serta memiliki bangsa dan negara
dikalangan generasi muda perlu digalakkan karena pada gilirannya akan
mempertebal semangat pengabdian dan kesiapan mereka untuk membela dan
mempertahankan NKRI.
- Kemampuan Penguasaan Ilmu dan Teknologi Generasi
muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan
teknologi bila secara fungsional dapat dikembangkan sebagai Transformator dan
Dinamisator.
Inilah potensi-potensi yang mulai hilang serta
yang dibutuhkan dalam suatu masyarakat.
PERGURUAN DAN PENDIDIKAN
·
Mengembangkan potensi generasi muda
Potensi
Generasi Muda dapat dikembangkan melalui bidangnya masing – masing agar
tercapai suatu keinginan yang selaras antara Generasi sebelumnya dan Generasi
Baru yang akan mencapai suatu negara yang maju dan sejahtera.
- Pengertian
pendidikan dan perguruan tinggi
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki ilmu di bidang keinginannya masing-masing agar
bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Sedangkan
perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi
disebut Mahasiswa sedangkan tenaga pendidikan perguruan tinggi disebut dosen.
disinilah seseorang dapat mengembangkan lebih dalam lagi ilmu-ilmu yang telah
didapat dari pendidikan sebelumnya (SD,SMP,SMA), yang akan berpeluang besar
menggantikan generasi sebelumnya, dan dapat memajukan bangsa dan negaranya.
- Alasan
untuk berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi
Mengapa
semua individu khususnya di Indonesia wajib mengenyam pendidikan selama 12
tahun? maka jika tidak, akan terjadi akibat seperti Pengangguran Semakin
Banyak, Generasi Muda tidak ada, perampokan, pembunuhan dan lain sebagainya.
(Menakutkan bukan) faktor: hanya karena pendidikan yang mahal.
Syukurlah pemerintah punya program sekolah gratis selama 9 tahun, “itu
setahu saya karna saat SMA saya masih bayar”. Jadi kesimpulannya mengapa
individu harus mengenyam pendidikan adalah karna setiap individu harus
sekolah Minimal selama 12 tahun agar disaat seseorang beranjak dewasa,
seseorang itu dapat bermanfaat sebagai pemuda yang aktif didalam lingkungan
masyarakat dan akan menjadi Generasi Penerus yang akan menjadi Pemimpin yang
baik mengerti rakyat dan memajukan bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Pemuda dan Identitas
Pengertian
Pemuda menurut kamus
Definisi
pemuda
Berbagai definisi berkibar akan makna kata pemuda. Baik
ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta
pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Terlebih
kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda.
Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai
“the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of
being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality
characteristic of a young person”.
Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai
young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19
tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age
24, youth are no longer eligible for adolescent social services” Definisi yang
berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang
disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:
- berani merombak dan
bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda
(Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan
ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang orang yang
zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela
berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya, 21:59-60).
- memiliki standar moralitas
(iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten
dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para
pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan
sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pemuda yang beriman kepada
Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah
meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan
kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain
Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat
jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).
- seorang yang tidak
berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan
pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada
muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua
buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 :
60). Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif
dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis,
berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda
adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda
yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan
sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri. Perubahan peran penting dari seorang pemuda adalah pada kemampuannya melakukan perubahan.
Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda.
Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya magis yang sangat kuat
sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya, terutama mereka yang telah
merasakan kenikmatan dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga
dapat menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan
suatu perubahan melahir sosok pribadi yang berjiwa optimis. Optimis bahwa hari
depan pasti lebih baik. Tak heran jargon perubahan menjadi tema yang cukup
menjual dan menggugah hati masyarakat di Pilpres II lalu. Pertama kali
didengungkan oleh PKS setelah penandatanganan nota kesepahaman dukungan PKS
terhadap pasangan SBY-JK di Pilpres II. SBY pun menggunakan jargon “perubahan”
ini dalam kampanyenya dan terbukti sukses. Lebih dari 60% masyarakat Indonesia
mendukungnya, suatu persentasi angka yang tidak sedikit. Harapan perubahan
itulah yang amat sangat dirindukan oleh bangsa Indonesia. Saya mungkin salah
satu anak bangsa, yang ketika pemilu 2004 ini digulir baik legislatif maupun
presiden, menjadi optimis bahwa angin perubahan ke arah kehidupan yang lebih
baik akan merebak. Hal itu dapat terlihat proporsi fraksi anggota parlemen dari
perwakilan partai yang hampir merata, baik tingkat nasional maupun daerah.
Sekarang yang kita tunggu adalah bagaimana mereka menggebrak dan masih layak
disebut pemuda. Mereka butuh momentum. Momemntum unutk merubah tatanan
pragmatisme yang kadung menjadi sebuah permisivitas dalam kacamata sosial.
Pengertian
pokok pembinaan dan pengembagan generasi muda
- Generasi muda sebagai
subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal2 dan
kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri dalam keterlibatannya secara
fungsional bersama potensi lainya, guna menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi bangsa dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara serta
pembangunan nasional.
- Generasi muda sebagai obyek
pembnaan dan pengembangan ialah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan
pengambangan ke arah pertumbuhan potensi dan kemampuan-kemampuannya ke tingkat
yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara
fungsional.
Masalah-masalah
generasi muda
- Dirasa
menurunya jiwa idealisme, patriorisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat
termasuk generasi muda
- Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
- Belum
seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan faslitas pendidikan yang
tersedia, baik secara formal atauoun non formal.
- Kurangnya
lapangan kerja/kesempatan kerja, serta tingginya angka pengangguran atau
setengah pengangguran di generasi muda.
- Kurangnya
giz, yang dapat menyebabkan hambata bagi pertumbuhan atau perkembangan badan di
generasi muda.
- Perkawinan
di bawah umur
- Pergaulan
bebas
- Meningkkatnya kenakalan remaja (narkoba)
- Belum
adanya peraturan UU yang menyangkut generasi muda.
Potensi-potensi
generasi muda
- Idealisme
dan daya kritis
- Dinamika
dan kreatifitas
- Keberanian
mengambil resiko
- Optimis
dan kegairahan semangat
- Sikap
kemandirian dan disiplin murni
- Terdidik
- Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
- Patriotisme dan nasionalisme
- Sikap
kesatria
- Kemampuan
penguasaan ilmu dan teknologi
- Tujuan
pokok sosialisasi
- Individu
harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan
kelak di masyarakat. Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan
mengembangkan kemampuannya.
- Pengendalian fungsi-fungsi organic yang dipelajari melalui latihan-latihan
mawas diri yang tepat.
- Bertingkah
laku secara selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok ada pada
lembaga atau kelompok khususnya dan pada masyarakat umumnya.
Pengembangan
potensi generasi muda
- Melalui
pendidikan, melalui pertambangan ataupun perindustrian yang sesuai dengan
potensi miliknya, agar generasi muda itu dapat atau bisa mendapatkan secara
memuaskan sesuai dengan keahliannya.
- Disamping
itu pengembangannya harus sesuai dengan aturan yang berlaku, hal itu dimaksudkan
agar tidak menimbulkan hal–hal yang tidak diinginkan.
Kesimpulan : Jadi pemuda merupakan golongan muda
yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik. Di dalam
sosialisasi, pemuda pun harus lebih teliti, seperti sosialisasi dalam budaya
asing. Pemuda dapat memahami budaya asing, tetapi mereka pun harus mempunyai batas
jangan sampai mereka malah terbawa arus oleh budaya asing itu hingga melupakan
budaya nya sendiri. Masa depan suatu bangsa berada di tangan generasi muda. Oleh
karena itu, pemuda harus di berikan pemahaman dan pembinaan berupa ilmu
pengetahuan, untuk menjaga budaya bangsanya.